Media Informasi Pemberdayaan

Selasa, 04 April 2017

" POLA PIKIR TERBALIK"


 Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temukan kasus-kasus yang mana  pola pikir yang terbalik hal ini tampa disadari karena motif segan atau kuruang enak, dan basa basi, baik itu pada atasan maupun pada bawahan sebagai contoh yang sering dijumpai atau dialami oleh penulis sendiri
Kedua, logika terbalik kita juga terdadap dalam bebarapa produk budaya modern. Karya sastra dan film adalah dua produk budaya modern yang menggambarkan sudut pandang suatu bangsa. Karya sastra kita, kalau kita perhatikan sangat banyak yang berbau sejarah kejayaan masa lalu. Sejarah tentang kejayaan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia masa lalu menghiasi karya sastra dan film kita. Bahkan karya sastra semacam ini yang paling digemari oleh pemirsa. Di samping persoalan masa silam, produk budaya ini juga dipenuhi dengan pikiran-pikiran mistik yang irasional. Jika anda mengakses karya drama atau novel atau film anda akan disuguhi dengan hal-hal irasional seperti ini. Misteri gunung Merapi, Tutur Tinular, dan Wiro Sableng adalah karya sastra dan film yang sangat digemari oleh masyarakat kita. Itulah logika terbalik yang ada di dalam produk budaya masyarakat kita. Perlu di ingat produk budaya sangat ditentukan oleh penikmatnya, dimana sesuatu yang laris, maka disitulah orang akan berusaha menciptakan sebuah karya yang sesuai dengan minat pemirsanya. Disitu pula akan tergambar karakteristik dan logika berfikir masyarakat dari suatu bangsa. Oleh karena itu wajar jika produk budaya adalah cermin identitas suatu bangsa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wajiran/logika-terbalik-orang-indonesia-penyebab-ketertinggalah-kita_5510d392a333112e3cba8cf4

Saya tidak tahu apakah pengaruh pendidikan model Belanda masih menggurita di dalam benak kita. Karena dalam beberapa literatur yang saya baca, Belanda lebih suka pada hal-hal yang berbau sejarah lama. Bahkan lama sekali. Apakah ini hanya doktrin agar kita tertinggal, atau memang budaya Belanda seperti itu juga saya kurang tahu. Tetapi yang jelas, dalam buku-buku S1 dan S2 saya kalau ada hasil penelitian barang-barang langka akan selalu mengacu pada negera itu. Bukan hanya itu, menurut beberapa Profesor di tempat saya kuliah, beliau sering menyarankan kalau mau mencari dokumen kuno datanglah ke Leiden (Belanda). Di sanalah gudangnya segala hal tentang sejarah nusantara.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wajiran/logika-terbalik-orang-indonesia-penyebab-ketertinggalah-kita_5510d392a333112e3cba8cf4dalam hal ini saya
Kedua, logika terbalik kita juga terdadap dalam bebarapa produk budaya modern. Karya sastra dan film adalah dua produk budaya modern yang menggambarkan sudut pandang suatu bangsa. Karya sastra kita, kalau kita perhatikan sangat banyak yang berbau sejarah kejayaan masa lalu. Sejarah tentang kejayaan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia masa lalu menghiasi karya sastra dan film kita. Bahkan karya sastra semacam ini yang paling digemari oleh pemirsa. Di samping persoalan masa silam, produk budaya ini juga dipenuhi dengan pikiran-pikiran mistik yang irasional. Jika anda mengakses karya drama atau novel atau film anda akan disuguhi dengan hal-hal irasional seperti ini. Misteri gunung Merapi, Tutur Tinular, dan Wiro Sableng adalah karya sastra dan film yang sangat digemari oleh masyarakat kita. Itulah logika terbalik yang ada di dalam produk budaya masyarakat kita. Perlu di ingat produk budaya sangat ditentukan oleh penikmatnya, dimana sesuatu yang laris, maka disitulah orang akan berusaha menciptakan sebuah karya yang sesuai dengan minat pemirsanya. Disitu pula akan tergambar karakteristik dan logika berfikir masyarakat dari suatu bangsa. Oleh karena itu wajar jika produk budaya adalah cermin identitas suatu bangsa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wajiran/logika-terbalik-orang-indonesia-penyebab-ketertinggalah-kita_5510d392a333112e3cba8cf4
Kedua, logika terbalik kita juga terdadap dalam bebarapa produk budaya modern. Karya sastra dan film adalah dua produk budaya modern yang menggambarkan sudut pandang suatu bangsa. Karya sastra kita, kalau kita perhatikan sangat banyak yang berbau sejarah kejayaan masa lalu. Sejarah tentang kejayaan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia masa lalu menghiasi karya sastra dan film kita. Bahkan karya sastra semacam ini yang paling digemari oleh pemirsa. Di samping persoalan masa silam, produk budaya ini juga dipenuhi dengan pikiran-pikiran mistik yang irasional. Jika anda mengakses karya drama atau novel atau film anda akan disuguhi dengan hal-hal irasional seperti ini. Misteri gunung Merapi, Tutur Tinular, dan Wiro Sableng adalah karya sastra dan film yang sangat digemari oleh masyarakat kita. Itulah logika terbalik yang ada di dalam produk budaya masyarakat kita. Perlu di ingat produk budaya sangat ditentukan oleh penikmatnya, dimana sesuatu yang laris, maka disitulah orang akan berusaha menciptakan sebuah karya yang sesuai dengan minat pemirsanya. Disitu pula akan tergambar karakteristik dan logika berfikir masyarakat dari suatu bangsa. Oleh karena itu wajar jika produk budaya adalah cermin identitas suatu bangsa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wajiran/logika-terbalik-orang-indonesia-penyebab-ketertinggalah-kita_5510d392a333112e3cba8cf4
Orang miskin:
 
Pak tolong dibuatkan Sovenir yg bagus dan mahal, karena itu akan saya hadiahkan utk Atasan saya".
 
Orang kaya raya
Pak tolong dibuatkan Sovenir yg paling murah, karena itu akan saya hadiahkan utk  bawahan saya".

Pertanyaan menariknya adalah:
 
 Siapa yg lebih miskin ?
 Siapa yg lebih kaya ?
 Siapa yg lebih baik ?
Saya rasa jawabannya tdk usah dibahas lagi cukup tau sama tau aja!!! :)

Begitulah kita sebagai manusia, terkadang berpikirnya sering terbalik-balik.
Kepada orang yg seharusnya pantas disantuni, justru kita jadi sangat pelit.

Kepada orang yg berkelimpahan harta, kita justru jadi sangat royal.

Kepada orang lemah/bawah yg seharusnya kita berlemah-lembut kepadanya, justru kita jadi sangat kasar dan jahat dlm ucap maupun sikap.

Kepada orang yg sepantasnya kita tegur, karna kesombongan dan kejahatannya, justru kita jadi sangat hormat.

Kepada orang yg setiap hari makan mewah, kita mengundangnya dalam pesta dengan suguhan makanan yg 'wah' dan melimpah.

Tetapi kepada orang yg hari ini bisa makan dan besok bisa jadi dia lapar, justru kita memberinya makanan sisa, yg kita sendiri sudah tidak mau.

Begitulah kebanyakan manusia sering berpikir terbalik-balik.

Saya jadi teringat dengan pesan hati:
*"Bila mau mengukur kebaikan seseorang, lihatlah cara dia memperlakukan orang-orang dibawahnya atau orang-orang yg tidak memberi keuntungan apapun kepadanya"*.
 
"Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yg "terbalik", dan selalu memperbaiki diri"